You are currently browsing the daily archive for September 8, 2008.
Oleh: Tito Siswanto
Disadari atau tidak, mahasiswa merupakan generasi penerus kepemimpinan. Maka sudah seharusnya kita sadar bahwa tongkat estafet kepemimpinan di Negeri ini akan diteruskan oleh mahasiswa. Disamping mahasiswa sebagai penerus kepemimpinan bangsa ini, ternyata mahasiswa berperan lebih besar sebagai agent of change. Tugas mahasiswa jangan pernah terhenti, ketika pemerintah berjalan baik, mahasiswa harus senantiasa berperan untuk menjadi oposisi dengan tetap mengawal pemerintah untuk meneruskan kinerjanya. Saat pemerintah mengalami penurunan kinerja, sudah sepatutnya mahasiswa bergerak untuk senantiasa mengingatkan tentang bagaimana pemerintah seharusnya bekerja.
Keadaan seperti sekarang ini membuat semakin vitalnya mahasiswa dalam mengawal bangsa ini untuk semakin baik. Adanya tugas yang diemban oleh mahasiswa sekarang seakan-akan sudah menghilang, hal ini disebabkan oleh adanya aksi-aksi anarkisme yang melibatkan mahsiswa dan terkadang aksi-aksi ini terjadi antar mahasisiwa sendiri.
Saya sebagai salah satu Mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, kerap kali kita lihat prosesi Pengenalan dan Pemahaman didalam sebuah Perguruan Tinggi khsusnya Muhammadiyah yang kurang mengakar, sehingga mengakibatkan mahasiswa Perguruan Tinggi tersebut tidak sejalan dengan apa yang menjadi tujuan dan landasan utama dari tugas pokok Perguruan Tinggi. BEM serta IMM dalam setiap aktivitasnya tentu tidak pernah lepas dari kerangka perkaderan yang menjadi jantung dan nafas gerak perjuangannya sebagai organisasi kemahasiswaan baik dalam maupun luar kampus.
Pada tulisan saya yang sebelumnya mengungkapkan bahwa secara sosial politik, mahasiswa merupakan kelompok strategis dalam masyarakat yang memiliki peranan sebagai pengganti dan penerus perjuangan bangsa. Oleh karena itu, dapat dikatakan, pada satu sisi dia bisa menjadi “aset” tetapi disisi lain dia bisa menjadi unsur liability. Aset dalam arti bahwa mahasiswa adalah pewaris perjalanan perjuangan suatu bangsa dalam mencapai cita-citanya. Sedangkan sebagai unsur ‘liability’, lebih kepada “segolongan” masyarakat yang harus mempunyai tanggung jawab (secara moral) akan perjalanan bangsa ini menuju harapan yang lebih baik dalam menggapai cita-citanya. Dalam dinamika pendidikan tinggi, mahasiswa mengembangkan dirinya dalam berbagai organisasi dan kelompok studi atau diskusi. Di kelompok studi inilah mahasiswa dapat menajamkan sense of intellectual, baik yang dilakukan melalui diskusi maupun ide-ide yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
Namun faktanya, kondisi mahasiswa sekarang sedang mengalami kemerosotan. Ini disebabkan karena adanya miss management yang terjadi di tingkat elit maupun bawahan. Stagnasi dan ketidakjelasan yang terjadi jelas menelantarkan sebagian aktifis-aktifis mahasiswa yang sebetulnya mempunyai potensi yang cukup bisa diandalkan, sehingga mahasiswa saat ini menjadi pohon yang rindang tetapi tak berbuah atau sebait puisi tanpa kata-kata bermakna.
Bila demikian, seharusnya sebagai seorang kader yang memiliki tanggungjawab persyarikatan, perlu kiranya melakukan pemutaran arah gerakan khususnya di PTM dengan Kembali memberikan tentang kemuhammadiyahan dan mengapa Muhammadiyah didirikan serta peran mahasiswa terhadap bangsa. yang salah satunya dengan proses internalisasi nialai-nilai ideologis yang meliputi sejarah perjuangan, visi dan misi dengan terbuka, logis, terukur, simpatik. Sehingga mahasiswa dapat memahaminya secara sadar dengan dibarengi semangat untuk dapat mempunyai sense of belonging dan kreatif dalam menjalankan fungsinya. Jika tidak, Mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah hanya menjadi singa di dalam rumah besar dan asik dengan kenikmatan dan kemudian kehilangan gigi serta tak ada bedanya dengan ”KERBAU-KERBAU pemakan tanaman yang menghiasi rumahnya sendiri”. Wallahualam

