Al-qur’an sebagai kitab Suci umat Islam ternyata pemanfaatannya tidak optimal dalam kehidupan. tentu bukan pada Al-quran-nya sebagai kitab, melainkan pada kaum muslim sebagai umat yang menganggap Al-qur’an sebagai kitabnya. sampai saat ini sangat sedikit kaum muslim yang memahami Al-qur’an sebagai pedoman kehidupan. Semua ini terbukti pada kejadian-kejadian yang sekarang ini marak dibicarakan, seperti kekerasan, individualisme dan fundamentalisme.
Katakanlah pelacuran di daerah Parung Bogor. kalau tidak percaya cobalah kita lihat pada seanjang jalan Parug Menuju Arah Bogor atau sebaliknya, pemandangan memperihatinkan menjadi komsumsi sore hari saat adzan Isya dikomandangkan. padahal tidak jauh dari tempat dimana para PSK menjajakan dirinya terdapat beberapa Pondok pesantren, katakanlah Pondok Pesanteren Darrus Salam, Darrul Mutaqiin dan beberapa pondok pesantren tradisiomal lainnya.
Pada kenyataannya, adakah pemberdayaan PSK sekitar oleh beberapa pesantren yang ada? jika ada mungkin tidak mungkin pelacuran disekitar berkembang seperti jamur dimusim hujan. kenapa demikian, apakah mereka ingin masuk sorga-Nya sendiri saja atau iri bila pelacur tersebut masuk sorga Tuhan nya.?
Tentu ini menjadi peluang bagi kaum Kristiani dalam memberdayakan para PSK yang kemudian membawa mereka pada agamanya. mengapa tidak, bila mereka dapat mensejahterakan PSK yang selama ini diperangi umat islam atau menjadi musuhnya. Salahkah merekan yang menjadi murtad bila demikian, sambung-menyambung sebenarnya bila ini terjadi merupakan kesalahan Kaum Muslim yang selama ini individualisme serta tidak peka terhadap lingkungan.
Haram hukumnya menyalahkan mereka yang nonmuslim dalam pemurtadan tersebut. karna jelas mereka memiliki hati sebagaimana layaknya manusia. Tentu juga Haram hukumnya menyalahkan mereka yang hijrah pada agama lain (Murtadin), karna mereka juga manusia yang memiliki kebutuhan seperti layaknya manusia pada umumnya.
Bila demikian, siapakah diantara kita yang salah dan akan memasuki Sorga-nya Tuhan?Wallahualam.

Tinggalkan komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini