You are currently browsing the monthly archive for Maret 2008.
Oleh: Tito Siswanto
Gaya hidup materialisme yang direngkuh dengan cara instan, telah mewarnai pula kehidupan masyarakat. Justru gaya hidup seperti itu dipertontonkan oleh elit bangsa kita, tidak kecuali kaum politis yang tiba-tiba menjadi orang kaya baru (Mukhaer Pakkana: 2005)
Pendahuluan
Istilah kader, umumnya menunjukkan pada pengertian kelompok elite atau inti sebagai bagian kelompok atau jama’ah yang terpenting dan yang telah lulus dalam proses seleksi. Adapun pengertian kader yang lebih operasional adalah seseorang yang telah menyetujui dan meyakini kebenaran suatu tujuan dari suatu kelompok atau jama’ah tertentu, kemudian secara terus menerus dan setia turut berjuang dalam proses pencapaian tujuan yang telah disetujui dan diyakini itu (Imawan Wahyudi, 2002:9).
Pertanyaan yang seyogyanya diajukan adalah mengapa trend masyarakat semakin digeluti oleh budaya Instan? Bisa jadi hal ini dilatari oleh kemalasan untuk bekerja dan berinovasi, yang akhirnya melemahkan tingkat produktivitas kader. Dalam hal ini kita tidak bisa dikatakan sebagai faktor produksi, tapi ia harus dilihat dari sisi kemandirian dalam mengelola dirinya (self manage).
Tentu saja seorang kader perlu membudayakan kemandirian atau budaya kerwirausahaan yang senantiasa berinternalisasi bagi setiap individu, sebab kewirausahaan berarti kemandirian. Secara bahasa Wira artinya utama, sementara swasta berdiri diatas kaki sendiri atau berdiri diatas kemampuan sendiri. Kemandirian Ikatan hanya bisa dilakukan dengan membangun budaya berwirausaha (Entrepreneurship).
Ahmad Dahlan Tauladan Entrepreneur
Sosok Ahmad Dahlan sangat sederhana, bersahaja dan memiliki jiwa wirausaha yang tinggi. Disamping kegiatan sehari-harinya sebagai guru mengaji dan khatib, beliau juga seorang pedagang (Entrepreneur). Ahmad Dahlan sering melakukan perjalanan ke berbagai kota untuk berdagang. Dalam perjalanan bisnisnya beliau selalu membawa misi dakwah Islamiyah. Sehingga tingkah lakunya dicontoh dan menjadi inspirasi bagi pengikutnya, tentu dalam aktivitas bisnisnya disinari oleh ajaran Islam.
Ahmad Dahlan selalu berpesan kepada rekan aktivis organisasinya ”Hidup-hidupilah Muhammadiyah jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah” pesan ini yang harus kita teladani sebagai Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisasi yang berada dalam naungan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di Dunia. Yang sampai saat ini memiliki amal usaha antara lain: bidang pendidikan (TK= 3.980; SD= 6.728; SMP= 3.279; SMA= 2.776; Kejuruan= 101; Pesantren= 32; Perguruan Tinggi= 176, jumlah 17.072 buah serta memiliki tanah wakaf 29.808.164,60 ha. Selain itu juga memiliki amal usaha di bidang kesehatan yakni PKU= 47; Poliklinik= 217; Kelinik Bersalin= 70 dan Akademik Perawat= 62 Buah. (Data: www.muhamadiyah.or.id)
Sangat sulit bagi kita, bila kita memahami pesan dari Ahmad Dahlan sebagai mana disebutkan diatas bila kita melihat aset Muhammadiyah yang bisa dikatagorikan berlimpah, dalam hati kecil mungkin bertanya-tanya ”Kita yang menghidupi Muhammadiyah atau sebaliknya?” hingga sekarang hal ini masih menjadi teka-teki yang belum bisa terjawab bila IMM sebagai kader hanya bisa mengemis atau meminta-minta tanpa melakukan tindakan konkret dengan membuka usaha baru (berwirausaha).
KH. Ahmad Dahlan juga selalu mengajarkan dalam pengajiannya bahwa Islam tidak hanya bersifat ucapan, akan tetapi harus diaplikasikan dalam serangkaian aksi nyata berupa amalan yang konkret diberbagai bidang tak terkecuali dibidang ekonomi. Disisi gerakan ekonomi, Ahmad Dahlan telah mengajarkan kepada kita semua tentang kerja keras dan kemandirian, disamping kerja ikhlas dan kerja cerdas.
Dalam tulisan Darmawa (1995) mengemukakan bahwa untuk memperjuangkan kepentingan ekonominya, warga muhammadiyah juga harus memajukan usahanya agar bisa membayar zakat, shadaqah, infaq atau memberi wakaf, warga Muhammadiyah harus menengaok keorganisasi lain.
Warga Muhammadiyah di kota-kota industeri, seperti Yogyakarta, Pekalongan, Solo, Tasik Malaya, Tulungagung, dan kota lainnya merupakan tulang punggung gerakan koprasi. Dari sini jelas bahwa Muhammadiyah lahir dari para pedagang (Enterpreneur), dan ternyata para pengurus Muhammadiyah didominasi oleh para pebisnis yang memiliki misi yang jelas terhadap perjuangan amar ma’ruf nahi munkar. (Sutia Budi: 2007)
Gerakan Intelektual, Gerakan Anti Pengangguran
Statistik krisis ekonomi menghasilkan 1.4 juta orang kehilangan pekerjaan ditahun 1998, sementara pekerja disektor informal meningkat 3.6 juta ditahun yang sama (Sukernas 1999). BPS tahun 2002 mencatat angkakerja sebesar 100.8 juta orang diantarnya 2.7% adalah lulusan Universitas dengan struktur pekerja sebesar 91.6 juta. Namun dilain pihak kesempatan kerja formal hanya tersedia 27.8 juta. Kemana sisa sekitar 73 juta? Gambaran semakin menakutkan dengan angka kemiskinan dari pemerintah yang telah mencapai 37.4 juta orang.(Sumber Data: BPS, 2003, Jakarta )
Pada umumnya, bagi sementara IMM yang merasa teridik atau merasa berpengetahuan akan segera memulai melakukan analisa masalah dengan logikanya. Masalah demi masalah dibedah hingga merasa mengetahui akar masalahnya (the root of problem) dengan cara berdiskusi analisa sosial, beradu pendapat dengan menyalah- nyalahkan pemimpin, penegak hukum, lingkungan dan lain-lain sampai akhirnya jenuh, lelah dan menyadarkan.
Langkah sistematis harus dilakukan berpegang teguh pada tujuan bersama dilandaskan saling percaya, bahu membahu membangun kemajuan umat dan ikatan. Perlu penyesuaian dalam sistem pengkaderan. Pendekatan dogmatis dan hafalan sudah saatnya digentikan dengan pendekatan partisipatif dan ekspresif untuk merangsang kreatifitas dan percaya diri. Dakwah dengan modal sosial secara konvensioanal telah kita miliki, kemampuan berbicara, menganalisa serta keintelektualan sudah menjadi suatu keharusan bahkan menjadi santapan sehari-hari skill yang merupakan dasar dari IMM, tinggal bagaimana keintelektualan yang menjadi bagian kempetensi dapat menghasilkan sebuah tindakan konkret mendorong terciptanya kader yang berjiwa Entrepreneur yang mampu membangun masyarakat serta kader IMM pada khususnya menjadi kader yang mandiri serta luput dari pengangguran dengan cara berwirausaha.
Kebutuhan akan wirausaha
Untuk tidak jauh larut, mari kita mencari potensi yang telah ada di sekitar. Penyelamat bangsa ini ternyata adalah sesuatu yang disebut UKM. UKM saat ini ternyata mampu menyerap 79 juta orang tenaga kerja. Tahun 2003 sumbangan terhadap PDB mencapai 56,7% dimana usaha besar hanya 43,3% saja. Statistik BPS tahun 2003 menunjukan jumlah UKM di Indonesia mencapai 42,4 juta unit, dimana 41,8 jutanya berupa usaha mikro, 1,36 juta usaha kecil dan 62 ribu merupakan usaha menengah. Bandingkan jumlahnya dengan usaha kategori besar yang hanya berkisar 2 ribu unit saja. Tidak heran bahwa kementrian koperasi dan UKM sangat serius mendorong pengembangan kewirausahaan karena melihat ini sebagai resep utama penyelamatan bangsa dengan menargetkan lahirnya 20 juta wirausaha baru untuk Indonesia dapat berpotensi sejajar dengan negara tetangga seperti Malaysia dan India. Diluar kebutuhan akan pengkajian lebih mendalam tentang daya saing, masalah struktural penyebaran dan faktor-faktor kritis yang terlibat, jelas sudah bahwa budaya kewirausahaan yang akan melahirkan wirausaha-wirausaha adalah satu jawaban penting keterpurukan kita.(Data: Biro Pusat Statistik: 2003)
Dari variabel yang berbeda, tentu dengan berwirausaha, kemandirian dalam pergerakan akan tercipta baiak secara individu maupun secara organisasi. Ketika kita sadari kebutuhan dari pada duniawi pastinya berorientasi pada profit atau uang, karna dengan uang segala hal dapat kita lakukan, pepatah Cina yang berbunyi: ”Yu Chien Se Te’ Kui Thui Mo” yang artinya ”bila ada uang, setanpun bisa kita perbudak” dan itu adalah kebenarn praktis. Tulisan ini tidak mengajarkan kita menjadi seorang kapitalis tetapi tentu saja untuk membawa kita kepada kemandirian dan tidak perlu ada ketergantunagan dalam berkreasi. Dengan banyaknya uang kita bisa melakukan segala macam perbuatan baik seperti memakmurkan kader-kader IMM, menyelenggarakan kegiatan (DAD, DAM, DAP) tanpa menjual proposal ke orang lain atau kepada elit politik dengan perjanjiian, membayar zakat, infak, shadakah, bersekolah, menyekolahkan sanak keluarga dan lain-lain.
Dari pemaparan di atas muncullah suatu pertanyaan “lalu apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan suatu kemandirian?”. jawabanya adalah ”bekerja”, namun tinggal bagaimana keinginan kita dalam bekerja ”bekerja pada orang lain atau memperkerjakan diri sendiri dan orang lain”.
Realitas dan Realisasi Gerakan
Dari hasil perdiskusian warung kopi yang kami lakukan bersama rekan- rekan IMM yang masih menduduki di Komisariat seusai melakukan diskusi rutin kajian ekonomi Bidang Hikmah dimana pertemuan sebelunmya diskusi yang kami lakukan bertajuk politik. Dari situ kami sadar bahwa kebanyakan kader IMM sepertinya belum dapat melakukan tindakan konkret baik terhadap Ikatan terlebih terhadap Persyarikatan dan Bangsa. Suatu gagasan hanya sebuah retorika semata. Teori Strukturasi Menurut Anthony Giddens “tidak ada aksi tanpa adanya teori” itu benar, walaupun ada kebanyakan orang berpendapat “yang penting aksi, bukan teori” itupun tidak salah, disitu ia perperan tentang bagaimana menyeimbangkan keduanya. Tentu keduanya menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan, namun yang dikhawatirkan bila teori tersebut dipelesetkan oleh segelintir orang yang merasa jenuh dengan ketidakpastian IMM. Bisa saja teori tersebut dirubah menjadi “tidak ada aksi, walau banyak teori”.
Disadari bahwa karakter pergerakan di tubuh IMM seakan lenyap pelan-pelan. Pergerakan tersebut dikalahkan oleh syahwat politik yang sesungguhnya mengkerdilkan Ikatan dan pribadi-pribadi mereka sendiri. Terlebih ketika IMM kergutat pada permasalahan intern tanpa peduli dengan permasalahan-permasalahan Bangsa, tentang kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada masyarat lemah atau kemasabodoan terhadap kader-kader yang dalam tahap pemula.
Dalam menghadapi tantangan globalisasi yang penuh persaingan, orientasi kearah terbentuknya kader IMM yang berwawasan dan mampu bersaing harus segera dibentuk sejak dini, tentunya IMM harus menjadi subjek bukan objek, Jika perlu IMM seharusnya menjadi ‘Maha’ dalam merealisasi Teori Strukturasi. Namun dalam aksi tentu menjadi masalah ketika kita harus terhambat pada permasalahan permodalan secara fiancial yang menyebabkan pergerakan menjadi tidak independen atau ditunggani oleh segelintir orang (dalang) yang memiliki kepentingan dalam pergerakan tersebut.
Sebagai formula, untuk dapat keluar dari jeratan gerakan ketergantungan tentu IMM harus bisa mendatangkan profit dan menghasilkan income dengan cara berwirausaha. Namun menjadi sebuah permasalahan baru ketika kader- kader IMM buta akan bagaimana mengawali berwirausaha. Beberapa hal yang perlu kita analisa dan dilakukan IMM untuk menangani berbagai macam permasalahan tersebut., antara lain:
1. Evaluasi pengkaderan
Perlu dilakukan dalam pengkaderan baik formal maupun non formal, terutama pada tingkatan dasar (komisariat), apakah pengkaderan yang selama ini telah berbicara tentang ekonomi atau ketenagakerjaan yang selama ini sedang kritis. Tentu semua itu perlu ditanamkan disetiap bentuk pengkaderan terutama pada tahapan pemula, karna tentunya kita tidak dapat lepas dari semua itu.
Tidak ada jaminan bagi siapapun untuk dapat menghasilkan income bila hanya mengharapkan dapat bekerja saat kuliah atau setelah kuliah kepada perusahaan yang sudah ada. Sebagai contoh lihat saja hasil analisa yang dilakukan oleh DEPNAKERTRANS tentang perbandingan jumlah lowongan kerja, pelamar dan pelamar yang diterima berikut ini:
Jumlah Lowongan : 3
Jumlah Pelamar : 10
Jumlah Pelamar yang diterima : 2
Tentu ini penting untuk dikaji sebagai motivasi untuk tidak lagi bergantung pada perusahaan yang selama ini sudah mewarnai di dunia usaha.
Memang tidak salah ketika pengkaderan dilakukan dengan sistem penanaman ideologi, menggali keitelektualan, pengembangan pola berpikir yang lebih luas. Tetapi alangkah lebih baik dalam pengkaderan juga ditanamkan jiwa- jiwa Enterpreneur. (Sumber Data: BPS, DEPNAKERTRANS Februari 2006).
2. Melakukan Pelatihan (Training)
Sekali setiap akhir atau menjelang kepengurusan baru bagi IMM tentu tidak asing tidak asing kita mendengar dan meyaksikan suatu hajatan besar yaitu Musyawarah Komisariat (MUSKOM), Musyawarah Cabang (MUSCAB), Musyawaarah Daerah (MUSDA) dan Muktamar pada tingkatan pusat. Tentu hajatan ini menjadi peristiwa bersejarah bagi IMM dimana pada musyawarah ada segelintir golongan yang akan mengakhiri masa bakti dan disatu sisi akan mengawalinya. Dengan rangkaian yang berpariatif, dengan mekanisme persidangan seperti layaknya rapat paripurna anggota DPR RI.
Disetiap rapat komisi dalam Musyawarah lakukan rekomendasi bagi IMM untuk kiranya melakukan pelatihan- pelatihan Kewirausahaan (Enterpreneur) tanpa terkecuali dalam tingkatan apapun. Jika perlu dalam tingkatan komisariat sebagai langkah mengawali IMM, bentuk kelompok belajar serta lakukan pelatihan- pelatihan kewirausahaan secara terus menerus disamping melakukan aktivitas dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan aktivitas lain, dan kemudian jadikan program dalam rapat kerja pengurus dan jalankan selama kepengurusan.
3. Menjadi Wirausaha di tempat ‘Bekerja’ (Belajar dan Aktivis).
Waktu dan peluang hanya datang satu kali, ya itu benar. Dari pemahaman yang berbeda sesungguhnya waktu dan peluang selalu datang berkali- kali karna Tuhan maha pengasih dan tidak pernah berhenti mengasihi hamba-Nya, tetapi justru keberanian kita yang belum ada untuk ‘mengambil peluang’ tersebut. Maka segera setelah memahami arti pentingnya berwirausaha, lakukan dalam bentuk praktek. Badan Usaha Milik Ikatan (BUMI ) yang selama ini antara ada dan tiada bisa dikembangkan dalam bentuk usaha- usaha kecil sepert:
• Membuka Jasa Pengetikan disekitar kampus.
• Membuka koperasi mahasiswa berbentuk eceran.
• Membentuk Bazar dalam setiap kegiatan yang dilakukan (seminar, pameran, pelatihan, dll.)
• Membuka Lembaga Pendidikan Luar Sekolah (Kursus dan Sejenisnya).
Atau bentuk lain yang lebih kreatif sesuai dengan kebutuhan pasar. Contoh ini merupakan gagasan konyol tetapi masuk akal, karna berdasarkan teori sesuatu yang besar perlu diawali dengan hal- hal yang kecil dan kita tidak akan bisa melakukan hal yang besar bila tidak bisa melakukan hal yang kecil.
Permasalahan permodalan yang sering kali menjadi sandungan dalam berwirausaha menjadikan kemandegan dan ketakutan untuk memulai. Sesungguhnya yang utama dalam memulai berwirausaha bukanlah modal melainkan ide. Menurut Sudar Siandes (2007) ada 3 (tiga) ‘B’ sebagai Konsep permodalan dalam memulai berwirausaha, yaitu BOTOL, BOBOL, BODOL.
• BOTOL : Berani, Optimis, Tenaga Orang Lain.
Konsep ini adalah sistem pemanfaatan orang lain yang ahli dalam bidang tertentu dan kita hanya menggunakan ide yang kita punya,
• BOBOL : Berani, Optimis, Bisnis orang lain.
Dalam konsep ini membawa kita untuk mencapai tujuan kita menggunakan bisnis orang lain, paling tidak dalam konsep ini kita hanya menjadi perantara dan mendapat keuntungan tanpa modal.
• BODOL : Berani, Optimis, Duit Orang Lain.
Dengan modal orang dan keberanian yang kita punya serta skill yang cukup kita dapat menciptakan usaha dengan konsep ini. Tentu ini beresiko, namun justru disinilah jiwa Entrepreneurship kita diuji.
Dari sini sesungguhnya tidak ada lagi keraguan bagi kita sebagai kader yang memiliki potensi cukup lumayan, segala bentuk tentang pemahaman kewirausahaan telah kita miliki. Uang bukan suatu hambatan untuk menghasilkan uang terkecuali jika memang IMM ingin menciptakan komunitas PESANTREN (Pengangguran Santai Tapi Keren).
Penutup
Cara berpikir yang penuh dengan penilaian bukan perancangan (Edwar de Bono, 2003). Logika yang baik dengan persepsi keliru menghasilkan arah keliru kita luput menyadari kedudukan dan potensi diri sebagai subjek yang diberikan Allah SWT. Mulailah dari perubahan diri sendiri diporsi, tempat, peran dan waktunya sendiri-sendiri. Memiliki motivasi yang kuat, untuk berfikir kreatif dan konstruktif. Berbagai studi tentang keberhasilan individu telah membuktikan bahwa aspek metafisik bukan fisik ayng menentukan keberhasilan.
Thomas A. Edition mengemukakan bahwa keberuntungan terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. Semua kategori telah kita miliki, tinggal bagaimana kita melakukan tindakan konkret menuju kemandirian ditengah Kondisi Indonesia saat ini dan dimasa depan sangat membutuhkan manusia dengan jiwa wirausaha yang mampu menjadi pengusaha maupun profesional kompetitif menghadapi segala perubahan lingkungan.
IMM harus bisa menjawab semua tantangan itu, kader IMM harus bisa menjadi penghidup organisasi dan bukan mencari kehidupan di organisasi. Mari kita bangun sebuah gerakan kemandirian. Gerakan ini adalah gerakan ENTREPRENEURSHIP.
DAFTAR PUSTAKA
De Bono, Edward (2003), “New Thinking for New Millenium” harper dan Row,
New York
Jurnal Equilibrium Vol. 2. No. 2. 2005 “Entrepreneurship: Keluar dari Jeratan
Bangsa Kuli.
Johanes Lim, Ph. D, CPC: Jus DUIT
Sutia Budi & Pitriandri ”Tri Kopetensi Dasaer: Meneguhkan Jatidiri Kader
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Gerakan Ekonomi Ala IMM.
Biro Pusat Statistik (2003), BPS, Jakarta.
Immawan Wahyudi: Suara Muhammadiyah
