(DR.IR.H.Roikhan,MA.MM)
(S1-ITB, S2-MMUI, S3-UIN)
(Dow Jones, Telerate, Bridge, Moneyline, Reuters)
(UIN, IAIN, STIEAD)

Kata Kunci: Kaffah, Sinlammim, System Thinking

Selain surat al-Baqarah [2]: ayat 208, kata Kâffah juga terdapat dalam surat Saba [34] ayat 28 yang menyatakan 2 hal yaitu “pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan”.
Jika dalam System Thinking terdapat causal loop positif, maka Islam Kâffah terdapat pembawa berita gembira. Dan sebagai pemberi peringatan merupakan causal loop negatif. Sehingga System Thinking dapat disandingkan dengan Islam Kâffah. Jadi, kalau pendekatan barat adalah System Thinking, maka pendekatan Islam adalah Ekonomi Kâffah.
Pemaparan Ekonomi Kâffah dapat mengambil analogi dari System Thinking. Fungsi Ekonomi Kâffah di sini, untuk menjadi pilihan konsep bila ternyata Ekonomi Kapitalis sudah terbukti tidak mampu mengatasi masalah yang kompleks akhir-akhir ini. Sebagian ekonom barat mulai memperbaiki system ekonomi kapitalis dengan pendekatan system thinking. Dalam hal ini, Ekonomi Kâffah merupakan the rising star yang merupakan paradigma baru dari pertumbuhan pesat Ekonomi Islam. Kehadiran Ekonomi Kâffah menjadi entitas yang berdiri sendiri, memiliki diferensiasi, dan dasar yang kuar dari al-Quran (QS. AL-Baqarah [2]: 208), tetapi dalam menjembatani pengembangan Ekonomi Kâffah dianalogikan bersama System Thinking. Peradaban barat yang memiliki referensi yang terstruktur, metodologi yang mendasar, dan yang paling penting sudah merasuki setiap lembar pemikiran kaum intelektual dunia. Sehingga dirasakan akan lebih sederhana dan logis bila Ekonomi Kâffah muncul bersama konsep System Thinking.
Kekhususan yang dimiliki oleh Ekonomi Kâffah adalah penjabaran dari metode Sinlammim. Hal ini sesuai dengan isi al-Quran yang berbunyi ‘silmi kâffah’, dengan penjelasan bahwa kata ‘silmi’ merupakan derivasi dari huruf sin lam mim.
Metode Sinlammim dalam Ekonomi Kâffah, juga menjadi metode yang baru bagi pengembangan epistemologi system ekonomi Islam secara keseluruhan. Untuk memudahkan pengertiannya maka metode Sinlammim dipersamakan dengan metode System Dynamics yang sudah lebih dulu exist sejak sepuluh tahun terakhir.
Metode Sinlammim secara umum merupakan salah satu solusi untuk menembus kebuntuan kehidupan dalam rangka memecahkan permasalahan yang mendasar. Hal ini dirasakan perlunya suatu metode yang lebih baik untuk menjadi perimbangan dalam mengatasi kemandekan ilmu pengetahuan.
Hal ini sejalan dengan perkembangan peradaban terakhir yang menyatakan bahwa dirasakan perlu untuk mencari jalan tengah dari permasalahan ekonomi yang ada dengan beralih ke hal-hal yang berkaitan dengan spiritual. Semakin hari manusia semakin menginginkan peradaban yang lebih baik, lebih tajam, dan mampu menjawab semua aspek. Salah satu contoh dari bukti sederhana metode Sinlammim adalah pencarian jati diri dari tangan manusia. Yang semula manusia beranggapan bahwa tangan ini atau jari-jari ini adalah given dari Tuhan, maka dengan semakin kritisnya manusia mulai mencari tahu adakah pola tertentu yang menjadi standar dari penciptaan jari-jari manusia.
Pendekatan yang ada selama ini kurang mampu menjawab keingintahuan manusia yang lebih rinci. Pendekatan dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan metode sinlammim. Dengan pendekatan ini manusia dapat sedikit membuka tabir konsep bentuk jari-jari manusia yang terkait erat dengan nilai spiritual yang ada dalam kitab suci.
Dengan metode sinlammim ini, manusia mencoba membuktikan bahwa model sinlammim ini ‘mampu atau tidak’ menjadi benchmark bagi setiap penciptaan yang ada di alam semesta ini. Jika dianggap bahwa dengan pendekatan ini dapat dibuat uraian tentang penciptaan jari-jari manusia, maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan penciptaan selain tangan manusia ini ?

Gambar Metode Sinlammim Dalam Tangan Manusia

sinlammim

Sumber: Lukisan Tangan Sinlammim,
Milik Sendiri, Dr.Ir.H.Roikhan.MA.MM. 2006.

(DR.IR.H.Roikhan,MA.MM)
(S1-ITB, S2-MMUI, S3-UIN)
(Dow Jones, Telerate, Bridge, Moneyline, Reuters)
(UIN, IAIN, STIEAD)

Pembuktian valid atau tidaknya sinlammim sebagai salah satu metode pendekatan dapat dilakukan dengan berbagai percobaan, trial and error, pengamatan dan penelitian yang dilakukan selayaknya oleh umat muslim sebagai pemilik dari model sinlammim ini. Kajian yang dilakukan sebenarnya tidak membatasi pada muslim maupun non muslim tetapi sekiranya metode ini mampu menghadirkan buah karya dari umat Islam sendiri, mengapa tidak umat muslim inilah yang memulai terlebih dahulu mencari tahu keabsahan metode sinlammim ini.
Untuk metode Sinlammim, juga memenuhi syarat sebagai salah satu pembanding dalam System Dynamics yaitu dengan pola feedbacknya. Elemen pertama adalah Tuhan, kemudian elemen kedua adalah alam, dan feedbacknya adalah ibadah. Bila System Dynamics mensyaratkan feedback sebagai bagian dari struktur sistemnya, maka Sinlammim juga memiliki feedback dalam hubungan di dalam sistem, seperti tersebut di atas.hubungan-sinlammim2

(DR.IR.H.Roikhan,MA.MM)
(S1-ITB, S2-MMUI, S3-UIN)
(Dow Jones, Telerate, Bridge, Moneyline, Reuters)
(UIN, IAIN, STIEAD)
Dengan kemampuan ilmuwan barat untuk menguasai bahasa komputer dan teknologi, maka kehadiran platform Powersim merupakan hal yang biasa. Sedangkan dengan kemampuan menerjemahkan konsep Islam Kâffah ke dalam Sinlammim, maka kemunculan formula akar digit adalah hal yang luar biasa, karena di dalamnya tersirat nilai sederhana, ketakterhinggaan, dan bernilai mutlak.

(DR.IR.H.Roikhan,MA.MM)
(S1-ITB, S2-MMUI, S3-UIN)
(Dow Jones, Telerate, Bridge, Moneyline, Reuters)
(UIN, IAIN, STIEAD)

Oleh: Tito Siswanto

Disadari atau tidak, mahasiswa merupakan generasi penerus kepemimpinan. Maka sudah seharusnya kita sadar bahwa tongkat estafet kepemimpinan di Negeri ini akan diteruskan oleh mahasiswa. Disamping mahasiswa sebagai penerus kepemimpinan bangsa ini, ternyata mahasiswa berperan lebih besar sebagai agent of change. Tugas mahasiswa jangan pernah terhenti, ketika pemerintah berjalan baik, mahasiswa harus senantiasa berperan untuk menjadi oposisi dengan tetap mengawal pemerintah untuk meneruskan kinerjanya. Saat pemerintah mengalami penurunan kinerja, sudah sepatutnya mahasiswa bergerak untuk senantiasa mengingatkan tentang bagaimana pemerintah seharusnya bekerja.

Keadaan seperti sekarang ini membuat semakin vitalnya mahasiswa dalam mengawal bangsa ini untuk semakin baik. Adanya tugas yang diemban oleh mahasiswa sekarang seakan-akan sudah menghilang, hal ini disebabkan oleh adanya aksi-aksi anarkisme yang melibatkan mahsiswa dan terkadang aksi-aksi ini terjadi antar mahasisiwa sendiri.

Saya sebagai salah satu Mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, kerap kali kita lihat prosesi Pengenalan dan Pemahaman didalam sebuah Perguruan Tinggi khsusnya Muhammadiyah yang kurang mengakar, sehingga mengakibatkan mahasiswa Perguruan Tinggi tersebut tidak sejalan dengan apa yang menjadi tujuan dan landasan utama dari tugas pokok Perguruan Tinggi. BEM serta IMM dalam setiap aktivitasnya tentu tidak pernah lepas dari kerangka perkaderan yang menjadi jantung dan nafas gerak perjuangannya sebagai organisasi kemahasiswaan baik dalam maupun luar kampus.

Pada tulisan saya yang sebelumnya mengungkapkan bahwa secara sosial politik, mahasiswa merupakan kelompok strategis dalam masyarakat yang memiliki peranan sebagai pengganti dan penerus perjuangan bangsa. Oleh karena itu, dapat dikatakan, pada satu sisi dia bisa menjadi “aset” tetapi disisi lain dia bisa menjadi unsur liability. Aset dalam arti bahwa mahasiswa adalah pewaris perjalanan perjuangan suatu bangsa dalam mencapai cita-citanya. Sedangkan sebagai unsur ‘liability’, lebih kepada “segolongan” masyarakat yang harus mempunyai tanggung jawab (secara moral) akan perjalanan bangsa ini menuju harapan yang lebih baik dalam menggapai cita-citanya. Dalam dinamika pendidikan tinggi, mahasiswa mengembangkan dirinya dalam berbagai organisasi dan kelompok studi atau diskusi. Di kelompok studi inilah mahasiswa dapat menajamkan sense of intellectual, baik yang dilakukan melalui diskusi maupun ide-ide yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Namun faktanya, kondisi mahasiswa sekarang sedang mengalami kemerosotan. Ini disebabkan karena adanya miss management yang terjadi di tingkat elit maupun bawahan. Stagnasi dan ketidakjelasan yang terjadi jelas menelantarkan sebagian aktifis-aktifis mahasiswa yang sebetulnya mempunyai potensi yang cukup bisa diandalkan, sehingga mahasiswa saat ini menjadi pohon yang rindang tetapi tak berbuah atau sebait puisi tanpa kata-kata bermakna.

Bila demikian, seharusnya sebagai seorang kader yang memiliki tanggungjawab persyarikatan, perlu kiranya melakukan pemutaran arah gerakan khususnya di PTM dengan Kembali memberikan tentang kemuhammadiyahan dan mengapa Muhammadiyah didirikan serta peran mahasiswa terhadap bangsa. yang salah satunya dengan proses internalisasi nialai-nilai ideologis yang meliputi sejarah perjuangan, visi dan misi dengan terbuka, logis, terukur, simpatik. Sehingga mahasiswa dapat memahaminya secara sadar dengan dibarengi semangat untuk dapat mempunyai sense of belonging dan kreatif dalam menjalankan fungsinya. Jika tidak, Mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah hanya menjadi singa di dalam rumah besar dan asik dengan kenikmatan dan kemudian kehilangan gigi serta tak ada bedanya dengan ”KERBAU-KERBAU pemakan tanaman yang menghiasi rumahnya sendiri”. Wallahualam

Al-qur’an sebagai kitab Suci umat Islam ternyata pemanfaatannya tidak optimal dalam kehidupan. tentu bukan pada Al-quran-nya sebagai kitab, melainkan pada kaum muslim sebagai umat yang menganggap Al-qur’an sebagai kitabnya. sampai saat ini sangat sedikit kaum muslim yang memahami Al-qur’an sebagai pedoman kehidupan. Semua ini terbukti pada kejadian-kejadian yang sekarang ini marak dibicarakan, seperti kekerasan, individualisme dan fundamentalisme.

Katakanlah pelacuran di daerah Parung Bogor. kalau tidak percaya cobalah kita lihat pada seanjang jalan Parug Menuju Arah Bogor atau sebaliknya, pemandangan memperihatinkan menjadi komsumsi sore hari saat adzan Isya dikomandangkan. padahal tidak jauh dari tempat dimana para PSK menjajakan dirinya terdapat beberapa Pondok pesantren, katakanlah Pondok Pesanteren Darrus Salam, Darrul Mutaqiin dan beberapa pondok pesantren tradisiomal lainnya.

Pada kenyataannya, adakah pemberdayaan PSK sekitar oleh beberapa pesantren yang ada? jika ada mungkin tidak mungkin pelacuran disekitar berkembang seperti jamur dimusim hujan. kenapa demikian, apakah mereka ingin masuk sorga-Nya sendiri saja atau iri bila pelacur tersebut masuk sorga Tuhan nya.?

Tentu ini menjadi peluang bagi kaum Kristiani dalam memberdayakan para PSK yang kemudian membawa mereka pada agamanya. mengapa tidak, bila mereka dapat mensejahterakan PSK yang selama ini diperangi umat islam atau menjadi musuhnya. Salahkah merekan yang menjadi murtad bila demikian, sambung-menyambung sebenarnya bila ini terjadi merupakan kesalahan Kaum Muslim yang selama ini individualisme serta tidak peka terhadap lingkungan.

Haram hukumnya menyalahkan mereka yang nonmuslim dalam pemurtadan tersebut. karna jelas mereka memiliki hati sebagaimana layaknya manusia. Tentu juga Haram hukumnya menyalahkan mereka yang hijrah pada agama lain (Murtadin), karna mereka juga manusia yang memiliki kebutuhan seperti layaknya manusia pada umumnya.

Bila demikian, siapakah diantara kita yang salah dan akan memasuki Sorga-nya Tuhan?Wallahualam.

Sukses menterpurukan Negri ini, pemimpin di Negara kita tidak lepas dari pengelolaan system yang ter-manaj dengan baik, kolektf – kolegial yang ter-manaj menjadikan keberhasilan yang begitu memuaskan bagi para manusia berotak keji. Tidak bisa kita ungkiri bahwa usaha untuk menghancurkan negri ini memang tak lepas dari kolektif-kolegial, oleh karnanya mengapa tidak bila mereka dapat menghancurkan lantas kita mencuri system yang digunakan untuk sebuah kebangkitan menuju kedikjayaan.

Mahasiswa yang merupakan golongan minoritas dikalangan masyarakat seharusnya menjadi urat syaraf bagi perubahan. dari sini mahasiswa seharusnya dapat melakukan perubahan yang signifikan dan menjadi sorotan dikalangan masyarakat. Harus disadari memang kini mahasiswa sudah tidak lagi menjadi golongan yang ditakutkan oleh para pemimpin yang tidak bertanggung jawab dikalangan manapun, namun jangan pernah berhenti bertindak, karna memang keterlibatan mahasiswa dalam perpolitikan di negri ini merupakan suatu pembunuhan karakter kita sebagai mahsiswa yang selama ini digolongkan sebagai kaum idealis,,,,jika kita telaah memang tak sedikit mahasiswa yang dijadikan alat untuk kepentingan politik tanpa kita sadari. Kasus Lapindo misalnya, adakah terlihat gerakan mahasiswa yang berambisi untuk mengusut kasus tersebut, padahal ini masalah sosial atau mngkin karena ini masalah sosial yang tidak menghasilkan apa-apa sehingga menjadikan sepi peminat.

Sejarah menunjukan begaimana mahasiswa selaku pencetus perubahan sosial politik mempunyai andil yang cukup signifikan misalnya dalam penggulingan Perez Imenez di venezuela pada tahun 1956, runtuhnya kekuasaan presiden “Seumur Hidup” Indonesia, Soekarno, pada tahun 1966; tumbangnya Ayub Khan Di Pakistan pada tahun 1986; runtuhnya kekuasaan yang manipulatif dari suchinda krooprayon di Tahiland tahun 1991; dan masih banyak lagi.

Penting memang ketika kita bicara tantang peran mahasiswa terhadap negri ini, tetapi tak kalah penting kini yang perlu kita bicarakan adalah bagaimana membenahi dan membangun serta meningkatkan potensi serta keintelektualan dan mengembalikan fitrah mahasiswa sebagai kaum intelektual. Politik pergerakan mahasiswa yang selalu menjadi sorotan didunia pemerintahan suatu Negara begitu besar seperti kasus-kasus tertuliskan diatas, tetapi adakah peran mahasiswa yang nyata untuk ikut serta membenahi keterpurukan bangsa setelah sukses menggulingkan roda pemerintahan ataupun bangsa yang memang sudah terpuruk. Sebenarnya permasalahan ini yang perlu kita soroti dan kita tinjau ulang. Jika tak ada tindakan konkrit dari mahasiswa maka bisa dikatakan mahasiswa hanya menjadi alat perpolitikan semata bagi para elit politik.

Secara sosial politik, mahasiswa merupakan kelompok strategis dalam masyarakat yang memiliki peranan sebagai pengganti dan penerus perjuangan bangsa. Oleh karena itu, dapat dikatakan, pada suatu sisi dia bisa menjadi “aset” tetapi disisi lain dia bisa menjadi unsur liability. Aset dalam arti bahwa mahasiswa adalah pewaris perjalanan perjuangan suatu bangsa dalam mencapai cita-citanya. Sedangkan sebagai unsur ‘liability’, lebih kepada “segolongan” masyarakat yang harus mempunyai tanggung jawab (secra moral) akan perjalanan bangsa ini menuju harapan yang lebih baik dalam menggapai cita-citanya.

Sebagai konsekuensi dari sistem pendidikan, nilai-nilai yang terkandung dalam perguruan tinggi seharusnya mengubah perilaku sosial maupun politik para mahasiswa. Perilaku sosial kehidupan sehari-hari mereka termanisfestasi dari cara berpakian, bertutur kata, dan lain sebagianya. Pengalaman-pengalaman subyektif dalam dinamika dunia kemahasiswaan secra tidak langsung juga mengubah pemikiran politik mereka. Dalam dinamika pendidikan tinggi, mahasiswa mengembangkan dirinya dalam berbagai organisasi dan kelompok studi atau diskusi. Di kelompok studi inilah mahasiswa dapat menajamkan sense of intellectual, baik yang dilakukan melalui diskusi maupun ide-ide yang dituangkan dalam bentuk tulisan di berbagai penerbitan. Tapi sayang sekali yang selama ini menjadi realitas tidak seperti yang diharapkan, mahasiswa kini lebih cenderung kepada perpolitikan yang bisa dikatakan tanpa landasan serta tak mencerminkan identitasnya sebagai mahasiswa. Padahal jika saja mahasiswa mahasiswa mampu meningkatkan keintelektualan dan dapat menciptakan karya-karya ilmiah, misalnya sebuah gagasan baik berupa lisan maupun tulisan dan sejenisnya maka itupun dapat dijadikan sebuah alat perpolitikan dan menjadi formula yang ampuh dalam menjalankannya perpolitikan bahkan disitu lebih terlihat cirikhas seorang mahasiswa dengan nilai keintelektualannya.

Maka seharusnya sistem pergerakan mahasiswa kini bukan lagi meuntut dan menggulingkan roda pemerintahan dan menjadi musuh pemerintah, tetapi kini yang perlu kita fikirkan bagaimana mahasiswa menjadi mitra pemerintah dalam menjalankan perogram-program yang bersifat membangun masyarakat. Baik dari segi pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya. Agar apa yang selama ini diharapkan oleh pemerintah, masyarakat dan mahasiswa itu sendiri tercapai. Maka jelas jika demikian tak perlu lagi ada yang perlu dipermasalahan karna memang kemakmuran dan kemerdekaan yang terharapakan telah tercapai.

Sebagai mahasiswa manajemen maka pertanyaan yang terpikirkan dalam benak kita adalah “Bagaimana”, Bagaimana cara merencanakan, serta memutar arah pola fakir mahasiswa yang selama ini yang senang bermain dengan perpolitikan, baik perpolitikan dilingkungan kampus ataupun perpolitikan di negeri ini dan bentuk lain yang dapat menghilangkan karakter kita sebagai mahasiswa.

Bila demikian maka seharusnya kita sadar dan dapat memahami diri kita sebagai mahasiswa yang seharusnya mengangkat derajat negeri, diri sendiri dan orang lain atau sebaliknya menanamkan pemahaman kepada masyarakat bahwa mahasiswa hanya nama besar untuk sebuah kebanggaan yang menyandangnya yang membuat masyarakat menganggap tak pentingnya sebuah pendidikan. Wallahu’alam.

Oleh: Tito Siswanto

Gaya hidup materialisme yang direngkuh dengan cara instan, telah mewarnai pula kehidupan masyarakat. Justru gaya hidup seperti itu dipertontonkan oleh elit bangsa kita, tidak kecuali kaum politis yang tiba-tiba menjadi orang kaya baru (Mukhaer Pakkana: 2005)

Pendahuluan

Istilah kader, umumnya menunjukkan pada pengertian kelompok elite atau inti sebagai bagian kelompok atau jama’ah yang terpenting dan yang telah lulus dalam proses seleksi. Adapun pengertian kader yang lebih operasional adalah seseorang yang telah menyetujui dan meyakini kebenaran suatu tujuan dari suatu kelompok atau jama’ah tertentu, kemudian secara terus menerus dan setia turut berjuang dalam proses pencapaian tujuan yang telah disetujui dan diyakini itu (Imawan Wahyudi, 2002:9).

Pertanyaan yang seyogyanya diajukan adalah mengapa trend masyarakat semakin digeluti oleh budaya Instan? Bisa jadi hal ini dilatari oleh kemalasan untuk bekerja dan berinovasi, yang akhirnya melemahkan tingkat produktivitas kader. Dalam hal ini kita tidak bisa dikatakan sebagai faktor produksi, tapi ia harus dilihat dari sisi kemandirian dalam mengelola dirinya (self manage).

Tentu saja seorang kader perlu membudayakan kemandirian atau budaya kerwirausahaan yang senantiasa berinternalisasi bagi setiap individu, sebab kewirausahaan berarti kemandirian. Secara bahasa Wira artinya utama, sementara swasta berdiri diatas kaki sendiri atau berdiri diatas kemampuan sendiri. Kemandirian Ikatan hanya bisa dilakukan dengan membangun budaya berwirausaha (Entrepreneurship).

Ahmad Dahlan Tauladan Entrepreneur

Sosok Ahmad Dahlan sangat sederhana, bersahaja dan memiliki jiwa wirausaha yang tinggi. Disamping kegiatan sehari-harinya sebagai guru mengaji dan khatib, beliau juga seorang pedagang (Entrepreneur). Ahmad Dahlan sering melakukan perjalanan ke berbagai kota untuk berdagang. Dalam perjalanan bisnisnya beliau selalu membawa misi dakwah Islamiyah. Sehingga tingkah lakunya dicontoh dan menjadi inspirasi bagi pengikutnya, tentu dalam aktivitas bisnisnya disinari oleh ajaran Islam.

Ahmad Dahlan selalu berpesan kepada rekan aktivis organisasinya ”Hidup-hidupilah Muhammadiyah jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah” pesan ini yang harus kita teladani sebagai Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisasi yang berada dalam naungan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di Dunia. Yang sampai saat ini memiliki amal usaha antara lain: bidang pendidikan (TK= 3.980; SD= 6.728; SMP= 3.279; SMA= 2.776; Kejuruan= 101; Pesantren= 32; Perguruan Tinggi= 176, jumlah 17.072 buah serta memiliki tanah wakaf 29.808.164,60 ha. Selain itu juga memiliki amal usaha di bidang kesehatan yakni PKU= 47; Poliklinik= 217; Kelinik Bersalin= 70 dan Akademik Perawat= 62 Buah. (Data: www.muhamadiyah.or.id)

Sangat sulit bagi kita, bila kita memahami pesan dari Ahmad Dahlan sebagai mana disebutkan diatas bila kita melihat aset Muhammadiyah yang bisa dikatagorikan berlimpah, dalam hati kecil mungkin bertanya-tanya ”Kita yang menghidupi Muhammadiyah atau sebaliknya?” hingga sekarang hal ini masih menjadi teka-teki yang belum bisa terjawab bila IMM sebagai kader hanya bisa mengemis atau meminta-minta tanpa melakukan tindakan konkret dengan membuka usaha baru (berwirausaha).

KH. Ahmad Dahlan juga selalu mengajarkan dalam pengajiannya bahwa Islam tidak hanya bersifat ucapan, akan tetapi harus diaplikasikan dalam serangkaian aksi nyata berupa amalan yang konkret diberbagai bidang tak terkecuali dibidang ekonomi. Disisi gerakan ekonomi, Ahmad Dahlan telah mengajarkan kepada kita semua tentang kerja keras dan kemandirian, disamping kerja ikhlas dan kerja cerdas.

Dalam tulisan Darmawa (1995) mengemukakan bahwa untuk memperjuangkan kepentingan ekonominya, warga muhammadiyah juga harus memajukan usahanya agar bisa membayar zakat, shadaqah, infaq atau memberi wakaf, warga Muhammadiyah harus menengaok keorganisasi lain.

Warga Muhammadiyah di kota-kota industeri, seperti Yogyakarta, Pekalongan, Solo, Tasik Malaya, Tulungagung, dan kota lainnya merupakan tulang punggung gerakan koprasi. Dari sini jelas bahwa Muhammadiyah lahir dari para pedagang (Enterpreneur), dan ternyata para pengurus Muhammadiyah didominasi oleh para pebisnis yang memiliki misi yang jelas terhadap perjuangan amar ma’ruf nahi munkar. (Sutia Budi: 2007)

Gerakan Intelektual, Gerakan Anti Pengangguran

Statistik krisis ekonomi menghasilkan 1.4 juta orang kehilangan pekerjaan ditahun 1998, sementara pekerja disektor informal meningkat 3.6 juta ditahun yang sama (Sukernas 1999). BPS tahun 2002 mencatat angkakerja sebesar 100.8 juta orang diantarnya 2.7% adalah lulusan Universitas dengan struktur pekerja sebesar 91.6 juta. Namun dilain pihak kesempatan kerja formal hanya tersedia 27.8 juta. Kemana sisa sekitar 73 juta? Gambaran semakin menakutkan dengan angka kemiskinan dari pemerintah yang telah mencapai 37.4 juta orang.(Sumber Data: BPS, 2003, Jakarta )

Pada umumnya, bagi sementara IMM yang merasa teridik atau merasa berpengetahuan akan segera memulai melakukan analisa masalah dengan logikanya. Masalah demi masalah dibedah hingga merasa mengetahui akar masalahnya (the root of problem) dengan cara berdiskusi analisa sosial, beradu pendapat dengan menyalah- nyalahkan pemimpin, penegak hukum, lingkungan dan lain-lain sampai akhirnya jenuh, lelah dan menyadarkan.

Langkah sistematis harus dilakukan berpegang teguh pada tujuan bersama dilandaskan saling percaya, bahu membahu membangun kemajuan umat dan ikatan. Perlu penyesuaian dalam sistem pengkaderan. Pendekatan dogmatis dan hafalan sudah saatnya digentikan dengan pendekatan partisipatif dan ekspresif untuk merangsang kreatifitas dan percaya diri. Dakwah dengan modal sosial secara konvensioanal telah kita miliki, kemampuan berbicara, menganalisa serta keintelektualan sudah menjadi suatu keharusan bahkan menjadi santapan sehari-hari skill yang merupakan dasar dari IMM, tinggal bagaimana keintelektualan yang menjadi bagian kempetensi dapat menghasilkan sebuah tindakan konkret mendorong terciptanya kader yang berjiwa Entrepreneur yang mampu membangun masyarakat serta kader IMM pada khususnya menjadi kader yang mandiri serta luput dari pengangguran dengan cara berwirausaha.

Kebutuhan akan wirausaha

Untuk tidak jauh larut, mari kita mencari potensi yang telah ada di sekitar. Penyelamat bangsa ini ternyata adalah sesuatu yang disebut UKM. UKM saat ini ternyata mampu menyerap 79 juta orang tenaga kerja. Tahun 2003 sumbangan terhadap PDB mencapai 56,7% dimana usaha besar hanya 43,3% saja. Statistik BPS tahun 2003 menunjukan jumlah UKM di Indonesia mencapai 42,4 juta unit, dimana 41,8 jutanya berupa usaha mikro, 1,36 juta usaha kecil dan 62 ribu merupakan usaha menengah. Bandingkan jumlahnya dengan usaha kategori besar yang hanya berkisar 2 ribu unit saja. Tidak heran bahwa kementrian koperasi dan UKM sangat serius mendorong pengembangan kewirausahaan karena melihat ini sebagai resep utama penyelamatan bangsa dengan menargetkan lahirnya 20 juta wirausaha baru untuk Indonesia dapat berpotensi sejajar dengan negara tetangga seperti Malaysia dan India. Diluar kebutuhan akan pengkajian lebih mendalam tentang daya saing, masalah struktural penyebaran dan faktor-faktor kritis yang terlibat, jelas sudah bahwa budaya kewirausahaan yang akan melahirkan wirausaha-wirausaha adalah satu jawaban penting keterpurukan kita.(Data: Biro Pusat Statistik: 2003)

Dari variabel yang berbeda, tentu dengan berwirausaha, kemandirian dalam pergerakan akan tercipta baiak secara individu maupun secara organisasi. Ketika kita sadari kebutuhan dari pada duniawi pastinya berorientasi pada profit atau uang, karna dengan uang segala hal dapat kita lakukan, pepatah Cina yang berbunyi: ”Yu Chien Se Te’ Kui Thui Mo” yang artinya ”bila ada uang, setanpun bisa kita perbudak” dan itu adalah kebenarn praktis. Tulisan ini tidak mengajarkan kita menjadi seorang kapitalis tetapi tentu saja untuk membawa kita kepada kemandirian dan tidak perlu ada ketergantunagan dalam berkreasi. Dengan banyaknya uang kita bisa melakukan segala macam perbuatan baik seperti memakmurkan kader-kader IMM, menyelenggarakan kegiatan (DAD, DAM, DAP) tanpa menjual proposal ke orang lain atau kepada elit politik dengan perjanjiian, membayar zakat, infak, shadakah, bersekolah, menyekolahkan sanak keluarga dan lain-lain.

Dari pemaparan di atas muncullah suatu pertanyaan “lalu apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan suatu kemandirian?”. jawabanya adalah ”bekerja”, namun tinggal bagaimana keinginan kita dalam bekerja ”bekerja pada orang lain atau memperkerjakan diri sendiri dan orang lain”.

Realitas dan Realisasi Gerakan

Dari hasil perdiskusian warung kopi yang kami lakukan bersama rekan- rekan IMM yang masih menduduki di Komisariat seusai melakukan diskusi rutin kajian ekonomi Bidang Hikmah dimana pertemuan sebelunmya diskusi yang kami lakukan bertajuk politik. Dari situ kami sadar bahwa kebanyakan kader IMM sepertinya belum dapat melakukan tindakan konkret baik terhadap Ikatan terlebih terhadap Persyarikatan dan Bangsa. Suatu gagasan hanya sebuah retorika semata. Teori Strukturasi Menurut Anthony Giddens “tidak ada aksi tanpa adanya teori” itu benar, walaupun ada kebanyakan orang berpendapat “yang penting aksi, bukan teori” itupun tidak salah, disitu ia perperan tentang bagaimana menyeimbangkan keduanya. Tentu keduanya menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan, namun yang dikhawatirkan bila teori tersebut dipelesetkan oleh segelintir orang yang merasa jenuh dengan ketidakpastian IMM. Bisa saja teori tersebut dirubah menjadi “tidak ada aksi, walau banyak teori”.

Disadari bahwa karakter pergerakan di tubuh IMM seakan lenyap pelan-pelan. Pergerakan tersebut dikalahkan oleh syahwat politik yang sesungguhnya mengkerdilkan Ikatan dan pribadi-pribadi mereka sendiri. Terlebih ketika IMM kergutat pada permasalahan intern tanpa peduli dengan permasalahan-permasalahan Bangsa, tentang kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada masyarat lemah atau kemasabodoan terhadap kader-kader yang dalam tahap pemula.

Dalam menghadapi tantangan globalisasi yang penuh persaingan, orientasi kearah terbentuknya kader IMM yang berwawasan dan mampu bersaing harus segera dibentuk sejak dini, tentunya IMM harus menjadi subjek bukan objek, Jika perlu IMM seharusnya menjadi ‘Maha’ dalam merealisasi Teori Strukturasi. Namun dalam aksi tentu menjadi masalah ketika kita harus terhambat pada permasalahan permodalan secara fiancial yang menyebabkan pergerakan menjadi tidak independen atau ditunggani oleh segelintir orang (dalang) yang memiliki kepentingan dalam pergerakan tersebut.

Sebagai formula, untuk dapat keluar dari jeratan gerakan ketergantungan tentu IMM harus bisa mendatangkan profit dan menghasilkan income dengan cara berwirausaha. Namun menjadi sebuah permasalahan baru ketika kader- kader IMM buta akan bagaimana mengawali berwirausaha. Beberapa hal yang perlu kita analisa dan dilakukan IMM untuk menangani berbagai macam permasalahan tersebut., antara lain:

1. Evaluasi pengkaderan

Perlu dilakukan dalam pengkaderan baik formal maupun non formal, terutama pada tingkatan dasar (komisariat), apakah pengkaderan yang selama ini telah berbicara tentang ekonomi atau ketenagakerjaan yang selama ini sedang kritis. Tentu semua itu perlu ditanamkan disetiap bentuk pengkaderan terutama pada tahapan pemula, karna tentunya kita tidak dapat lepas dari semua itu.

Tidak ada jaminan bagi siapapun untuk dapat menghasilkan income bila hanya mengharapkan dapat bekerja saat kuliah atau setelah kuliah kepada perusahaan yang sudah ada. Sebagai contoh lihat saja hasil analisa yang dilakukan oleh DEPNAKERTRANS tentang perbandingan jumlah lowongan kerja, pelamar dan pelamar yang diterima berikut ini:

Jumlah Lowongan : 3

Jumlah Pelamar : 10

Jumlah Pelamar yang diterima : 2

Tentu ini penting untuk dikaji sebagai motivasi untuk tidak lagi bergantung pada perusahaan yang selama ini sudah mewarnai di dunia usaha.

Memang tidak salah ketika pengkaderan dilakukan dengan sistem penanaman ideologi, menggali keitelektualan, pengembangan pola berpikir yang lebih luas. Tetapi alangkah lebih baik dalam pengkaderan juga ditanamkan jiwa- jiwa Enterpreneur. (Sumber Data: BPS, DEPNAKERTRANS Februari 2006).

2. Melakukan Pelatihan (Training)

Sekali setiap akhir atau menjelang kepengurusan baru bagi IMM tentu tidak asing tidak asing kita mendengar dan meyaksikan suatu hajatan besar yaitu Musyawarah Komisariat (MUSKOM), Musyawarah Cabang (MUSCAB), Musyawaarah Daerah (MUSDA) dan Muktamar pada tingkatan pusat. Tentu hajatan ini menjadi peristiwa bersejarah bagi IMM dimana pada musyawarah ada segelintir golongan yang akan mengakhiri masa bakti dan disatu sisi akan mengawalinya. Dengan rangkaian yang berpariatif, dengan mekanisme persidangan seperti layaknya rapat paripurna anggota DPR RI.

Disetiap rapat komisi dalam Musyawarah lakukan rekomendasi bagi IMM untuk kiranya melakukan pelatihan- pelatihan Kewirausahaan (Enterpreneur) tanpa terkecuali dalam tingkatan apapun. Jika perlu dalam tingkatan komisariat sebagai langkah mengawali IMM, bentuk kelompok belajar serta lakukan pelatihan- pelatihan kewirausahaan secara terus menerus disamping melakukan aktivitas dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan aktivitas lain, dan kemudian jadikan program dalam rapat kerja pengurus dan jalankan selama kepengurusan.

3. Menjadi Wirausaha di tempat ‘Bekerja’ (Belajar dan Aktivis).

Waktu dan peluang hanya datang satu kali, ya itu benar. Dari pemahaman yang berbeda sesungguhnya waktu dan peluang selalu datang berkali- kali karna Tuhan maha pengasih dan tidak pernah berhenti mengasihi hamba-Nya, tetapi justru keberanian kita yang belum ada untuk ‘mengambil peluang’ tersebut. Maka segera setelah memahami arti pentingnya berwirausaha, lakukan dalam bentuk praktek. Badan Usaha Milik Ikatan (BUMI ) yang selama ini antara ada dan tiada bisa dikembangkan dalam bentuk usaha- usaha kecil sepert:

Membuka Jasa Pengetikan disekitar kampus.

Membuka koperasi mahasiswa berbentuk eceran.

Membentuk Bazar dalam setiap kegiatan yang dilakukan (seminar, pameran, pelatihan, dll.)

Membuka Lembaga Pendidikan Luar Sekolah (Kursus dan Sejenisnya).

Atau bentuk lain yang lebih kreatif sesuai dengan kebutuhan pasar. Contoh ini merupakan gagasan konyol tetapi masuk akal, karna berdasarkan teori sesuatu yang besar perlu diawali dengan hal- hal yang kecil dan kita tidak akan bisa melakukan hal yang besar bila tidak bisa melakukan hal yang kecil.

Permasalahan permodalan yang sering kali menjadi sandungan dalam berwirausaha menjadikan kemandegan dan ketakutan untuk memulai. Sesungguhnya yang utama dalam memulai berwirausaha bukanlah modal melainkan ide. Menurut Sudar Siandes (2007) ada 3 (tiga) ‘B’ sebagai Konsep permodalan dalam memulai berwirausaha, yaitu BOTOL, BOBOL, BODOL.

BOTOL : Berani, Optimis, Tenaga Orang Lain.

Konsep ini adalah sistem pemanfaatan orang lain yang ahli dalam bidang tertentu dan kita hanya menggunakan ide yang kita punya,

BOBOL : Berani, Optimis, Bisnis orang lain.

Dalam konsep ini membawa kita untuk mencapai tujuan kita menggunakan bisnis orang lain, paling tidak dalam konsep ini kita hanya menjadi perantara dan mendapat keuntungan tanpa modal.

BODOL : Berani, Optimis, Duit Orang Lain.

Dengan modal orang dan keberanian yang kita punya serta skill yang cukup kita dapat menciptakan usaha dengan konsep ini. Tentu ini beresiko, namun justru disinilah jiwa Entrepreneurship kita diuji.

Dari sini sesungguhnya tidak ada lagi keraguan bagi kita sebagai kader yang memiliki potensi cukup lumayan, segala bentuk tentang pemahaman kewirausahaan telah kita miliki. Uang bukan suatu hambatan untuk menghasilkan uang terkecuali jika memang IMM ingin menciptakan komunitas PESANTREN (Pengangguran Santai Tapi Keren).

Penutup

Cara berpikir yang penuh dengan penilaian bukan perancangan (Edwar de Bono, 2003). Logika yang baik dengan persepsi keliru menghasilkan arah keliru kita luput menyadari kedudukan dan potensi diri sebagai subjek yang diberikan Allah SWT. Mulailah dari perubahan diri sendiri diporsi, tempat, peran dan waktunya sendiri-sendiri. Memiliki motivasi yang kuat, untuk berfikir kreatif dan konstruktif. Berbagai studi tentang keberhasilan individu telah membuktikan bahwa aspek metafisik bukan fisik ayng menentukan keberhasilan.

Thomas A. Edition mengemukakan bahwa keberuntungan terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. Semua kategori telah kita miliki, tinggal bagaimana kita melakukan tindakan konkret menuju kemandirian ditengah Kondisi Indonesia saat ini dan dimasa depan sangat membutuhkan manusia dengan jiwa wirausaha yang mampu menjadi pengusaha maupun profesional kompetitif menghadapi segala perubahan lingkungan.

IMM harus bisa menjawab semua tantangan itu, kader IMM harus bisa menjadi penghidup organisasi dan bukan mencari kehidupan di organisasi. Mari kita bangun sebuah gerakan kemandirian. Gerakan ini adalah gerakan ENTREPRENEURSHIP.

DAFTAR PUSTAKA

De Bono, Edward (2003), “New Thinking for New Millenium” harper dan Row,

New York

Jurnal Equilibrium Vol. 2. No. 2. 2005 “Entrepreneurship: Keluar dari Jeratan

Bangsa Kuli.

Johanes Lim, Ph. D, CPC: Jus DUIT

Sutia Budi & Pitriandri ”Tri Kopetensi Dasaer: Meneguhkan Jatidiri Kader

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Gerakan Ekonomi Ala IMM.

Biro Pusat Statistik (2003), BPS, Jakarta.

Immawan Wahyudi: Suara Muhammadiyah

 

Januari 2012
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blog Stats

  • 3,319 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.